Minggu, 17 Februari 2013

Makna dan Manfaat Zikir

ZIkir secara sederhana diartikan "ingat". Ingat itu ada kalanya dengan hati atau dengan lidah, ingat dari kelupaan dan ketidaklupaan, serta sikap senantiasa menjaga sesuatu dalam ingatan. Istilah zikir atau zikr Allah dalam Islam secara umum diartikan "mengingat Allah" atau "menyebut asma Allah". Allah berfirman, "Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa" (QS. al-kahfi[18]:24). Ketika seseorang ingat kepada Allah berarti dia merasakan kehadiran Allah dalam kehidupannya, dan sebaliknya, menjauhkan diri dari lupa kepada-Nya.
Zikir adalah tiang penopang yang sangat kuat di jalan menuju Allah. Tak seorangpun bisa mencapai Tuhan kecuali dengan terus - menerus zikir kepada-Nya. Jadi zikir adalah puji - pujian kepada Allah yang diucapkan berulang - ulang. Bagi kalangan sufi, zikir merupakan metode spiritual dalam pendekatan diri kepada Allah, penyebutan nama - nama Allah atau beberapa formula kalimat suci, dibawah bimbingan guru. Zikir haruslah disertai dengan kesungguhan dalam menjalankan seluruh peribadatan agama dan segala perbuatan kebajikan. Zikir ini pula yang bisa menghantarkan seseorang pencari (salik) ke tingkat zuhud, salah satu maqam yang harus ditempuh oleh seorang sufi.

Dari Ibrahim bin Adham, ia ditanya mengenai apa yang mebuatnya bisa mencapai tingkat zuhud. Ia menjawab ada tiga perkara. "Pertama, bahwa kubur itu menakutkan, sedangkan saya tidak punya sesuatu yang dapat menyelamatkan. Kedua, saya melihat perjalanan (dari dunia ke akhirat itu) begitu jauh, sementara saya tidak punya bekal. Ketiga, saya melihat kepada Allah Yang Maha Perkasa mutlak sebagai hakim, sedangkan saya tidak memiliki argumen apa - apa. Ketiga perkara di atas bukan lagi menjadi masalah jika kita selalu berzikir kepada Allah.

Pribadi yang berzikir biasanya berurai air mata. Hal ini terjadi karena kekerasan hati seseorang yang selama ini memunculkan kesombongan dan dipenuhi nafsu angkara murka, dihancurkan oleh kalimat - kalimat zikir. Menangis merupakan indikasi bahwa seseorang akan memasuki ruang kesadaran, dimana seseorang biasanya akan menyesali semua perbuatan khilaf, terlebih dosa yang pernah dilakukannya, baik kepada sesama maupun kepada Allah subhanahu wa ta'ala. Bahkan Allah menggambarkan hal ini dengan indah dalam al-Qur'an surat al-Israa'[17]:109, terjemahannya, "Dan mereka tundukan dagu dan mukanya seraya menangis dan mereka bertambah khusyu'" begitu juga,"...Maka mereka menyungkur dengan bersujud dan menangis" (QS. Maryam [19]:58).

Dengan tangisan itu berbaur segala perasaan: penyesalan, rasa cemas, ketidakberdayaan serta harapan cinta dari Illahi. Jiwa yang sangat halus membuat hati sangat mudah tersentak karena kebenaran, dan membuat pori - pori tubuhnya menjadi sensitif terhadap perilaku kebatilan. Karena dia sadar betapa beratnya tanggung jawab. Dia menangis untuk mendapatkan kekuatan (sulthan), agar mampu menundukan dunia untuk memenangkan akhirat. Tidak hanya itu, air matanya bercucuran dikarenakan sabda Sang Kekasih, telah memberikan ilmu kepadanya, agar mewaspadai jiwa dalam samudera dunia yang berlalu begitu cepat, kebahagiaan fana yang segera lenyap, sic tansic gloria mundi!.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim :
 "Andai kamu mengetahui seperti apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan sedikit sekali tertawa dan lebih banyak menangis".
Kemudian Anas radhiyallahu 'anh berkata:
"Seketika itu pula para sahabat menutup muka masing - masing sambil menangis terisak - isak".

Hamba yang melakukan peribadatan di dalam zikir, doa dan shalatnya, seraya mengikuti kata demi kata yang diucapkannya, niscaya bergetarlah hatinya. Dan ketika dia melihat perilakunya di masa lalu untuk melukiskan nasibnya di masa depan, maka tersungkurlah dia ke dalam doa sambil menangis, bahkan hamba yang seperti ini termasuk salah seorang dari tujuh macam kepribadian mulia, yang mendapatkan perlindungan Allah pada hari perhitungan.

Ibn al-Qayyim dalam bukunya al-Wabil al-Shaibi, seperti dikutip Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi dalam Fadhail al-A'mal, menulis bahwa zikir mampunyai lebih dari seratus manfaat, berikut ini adlah diantaranya:
  1. Zikir menjauhkan diri dari setan dan menghancurkan kekuatannya.
  2. Zikir menyebabkan seseorang cinta kepada-Nya.
  3. Zikir menjauhkan kegelisahan dan kesedihan hati.
  4. Zikir menjadikan hati lapang,gembira, dan berseri - seri.
  5. Zikir menguatkan tubuh dan hati.
  6. Zikir menjadikan bercahayanya rumah dan hati.
  7. Zikir dapat menarik rezeki.
  8. Orang yang selalu berzikir akan dipakaikan kepadanya pakaian kehebatan dan kegagahan, yaitu orang yang melihat akan merasa gentar dan akan merasakan kesejukan.
  9. Zikir menumbuhkan perasaan cinta kepada Allah, sedangkan cinta kepada Allah ini merupakan ruh Islam dan jiwa agama, juga sumber kebahagiaan dan keberhasilan.
  10. Zikir akan menyampaikan pada derajat ihsan.Orang yang telah mencapai derajat ihsan, dalam ibadahnya seakan - akan melihat Allah.  
  11. Zikir merupakana sarana untuk kembali kepada Allah yang akan membawa seseorang berserah diri kepada Allah.
  12. Zikir dapat membawa seseorang dekat kepada Allah.
  13. Zikir merupakan pintu ma'rifat kepada Allah.
  14. dengan zikir, kehebatan dan kebesaran Allah akan masuk ke dalam hati.
  15. Zikir menjadi penyebab ingat kepada Allah.
  16. Zikir dapat menghidupkan hati.
  17. Zikir merupakan makanan bagi hati dan nurani.
  18. Zikir menjauhkan dari karat hati.
  19. Zikir menjauhkan diri dari kesusahan dan kesalahan.
  20. Zikir dapat menjauhkan diri dari perasaan takut dan was - was. (dst...)
 
Begitu pentingnya zikir, hingga Maulana Muhammad Zakariyya al-Kandahlawi mengatakan, seandainya tidak ada ayat al-Quran maupun hadits Nabi yang menerangkan tentang zikir kepada Allah, zikir yang hakiki terhadap Allah tetaplah sangat penting. Karena itu, sebagai hamba, hendaklah kita mengingat-Nya, jangan sampai melalaikannya. Pada hakikatnya, Dialah Allah Yang Maha Pemberi. Dia telah memberikan nikmat dan kebaikan yang tiada terhingga banyaknya kepada kita pada setiap saat, pemberian yang tiada bandingnya. Maka, zikir kepada Yang Maha Memberi dengan mengingat-Nya merupakan hal yang memang sudah seharusnya bagi seorang hamba.
 
(SUMBER: INDONESIA BERZIKIR, Risalah Anak Bangsa Untuk Negeri Tercinta. Penulis: Muhammad Arifin Ilham & Syamsul Yakin) 

 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar