Selasa, 19 Februari 2013

Doa Ketika Kehilangan Orang Yang Dicintai

ujian dan cobaan terberat yang menimpa manusia adalah kesulitan dan kesedihan ketika ditinggalkan oleh orang - orang yang dicintainya, seperti anak, suami, sahabat, maupun kawan dekat. Semakin berat musibah dan cobaan yang menimpa seseorang. maka pahalanya semakin besar pula. Terkai dengan persoalan ini, Al-Qur'an menjelaskan keutamaan orang - orang yang mampu bersabar. Cukuplah dijadikan pelajaran bahwa Allah Swt. mengulang kata sabar dalam Al-Qur'an sebanyak sembilan puluh kali. Disaat Allah Swt. menceritakan tentang musibah, ujian, dan cobaan, maka Dia senantiasa mengiringinya dengan balasan kebaikan.
Tentang hal ini, Allah Swt. berfirman : "Dan kami jadikan diantara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami." (Q.s.As-Sajdah[32]:24)

Allah Swt. berfirman: "Dan Kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bagian timur bumi dan bagian baratnya yang telah Kami beri berkah padanya. Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang bai (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. Dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka." (Q.s.Al-A'raf[7]:137).

Allah Swt. berfirman: "Apa yang disisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah Swt. adalah kekal. Sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." (Q.s.An-Nahl[16]:96).

Semua pahala dan balasan ibadah dapat diukur dan dihitung, kecuali balasan dan pahala bersabar. Untuk itu, posisi puasa sama dengan posisi bersabar. Dalam hal ini, Allah Swt. mengatakan dalam Hadits Qudsi, "Puasa itu untuk-Ku, dan Akulah penentu besar kecilnya pahala."

Allah Swt. menjanjikan orang-orang yang bersabar bahwa diri-Nya akan senantiasa bersama mereka. Dia memberikan balasan kepada orang-orang yang bersabar, dan balasan tersebut tidak pernah diberikan kepada selain mereka. Allah Swt. berfirman: "Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (Q.s.Al-Baqarah[2]:157).

Oleh karena itu, Rasulullah Saw. bersabda, "Tidak seorang muslimpun yang ditimpa musibah dan mengatakan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt. dalam Q.s.Al-Baqarah[2]:156 "...Sesungguhnya kami milik Allah Swt. dan pasti akan kembali kepada-Nya. "Ya Allah, ya Tuhanku, berilah balasan yang terbaik atas musibah tersebut dengan yang lebih baik", kecuali Allah Swt. akan memberikan ganti dengan yang lebih baik dari itu."

 Dalam sebuah Hadis, Ummu Salmah berkata, "Ketika Abu Salmah meninggal dunia, maka aku berkata:"Orang muslim mana yang lebih baik daripada Abu Salmah, rumah pertama yang berhijrah mengikuti perjuangan Rasulullah Saw.. Lalu aku memanjatkan doa tersebut, maka Allah Swt. segera memberi ganti kepadaku dengan yang lebih baik daripada Abu Salmah, yakni Rasulullah Saw.. Kemudian Ummu Salmah berkata, "Rasulullah Saw. mengutus seorang utusan bernama Hatib bin Abu Balta'ah agar meng-khitbah-ku (memberikan mas kawin) demi beliau. "Aku berkata kepada utusan itu, "Aku memiliki seorang putri, sedangkan aku adalah wanita pencemburu." Utusan itu berkata, "Untuk puterinya, kami berdoa mudah-mudahan Allah Swt. menjadikannya dapat berpisah dari puterinya, dan aku berdoa mudah-mudahan Allah Swt. menghilangkan sifat cemburunya."

 Diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Saw. bersabda, "Allah Swt. berfirman : "Tidak sesuatupun bagi hamba-Ku yang mukmin, dan Akupun memberinya pahala saat Aku mencabut nyawa orang yang dicintainya di dunia, kecuali Aku menggantinya di surga kelak."

 Disamping itu, diriwayatkan dari sahabat Anas r.a., dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda: "Sesungguhnya Allah Swt. berfirman: "Ketika Aku menimpakan cobaan dan musibah kepada seorang hamba-Ku, dengan cucuran dua air matanya (karena ada yang meninggal dunia), lalu dia bersabar, maka aku akan mengganti cucuran dua air mata itu di surga kelak."

Untuk itu dalam kitab Mukhtashar Minhaj al-Qashidin, Imam Ibnu Qudamah menerangkan, "Suatu kali, Shilat bin Asyim dan puteranya maju ke medan pertempuran. Dia berkata pada puteranya, "Wahai puteraku, majulah lebih dulu dan berperanglah. Aku membentengimu dari belakang. Lalu sang putera maju ke depan dan bertempur menghadapi lawan, dan dia terbunuh dalam pertempuran tersebut. Kemudia ganti Shilat maju ke depan dan berperang, dan Shilatpun juga terbunuh di medan perang itu. Setelah kematian Shilat bin Asyim dan Puteranya, para wanita berkumpul bersama di rumah ibunya, Mu'adzah al-'Adawiyah. Mu'adzah berkata, "Selamat datang, jika kalian datang untuk memberikan ucapan selamat, diperbolehkan. Namun bila kalian datang ke sini bukan untuk itu, maka kembalilah kalian kerumah masing - masing."

Tsabit bin al-Banani berkata, "Abdullah bin Mathraf meninggal dunia. Mathraf, sang ayah, keluar ke hadapan kaumnya dengan mengenakan pakaian yang indah, dan memakai parfum beraroma wangi. Kaumnya pun marah, dan secara serempak mengatakan, "Abdullah baru saja meninggal dunia, lantas engkau keluar rumah berpakaian indah dan bagus, serta memakai parfum wangi."Lalu Mathraf berkata, "Apakah aku harus menangisi kematian itu? Tuhanku telah memberikan tiga janji kepadaku. Setiap janji itu lebih aku sukai daripada dunia seisinya:


Janji pertama, Allah Swt. berfirman:
"(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: "Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji'uun"(kami milik Allah Swt., dan kami suatu saat pasti kembali kepada-Nya). Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang - orang yang mendapat petunjuk. "(Q.s.Al-Baqarah[2]:156-157).

Janji kedua, ketika Nabi Ya'kub a.s. kehilangan Nabi Yusuf a.s., Allah Swt. berfirman:
"Mereka datang membawa baju gamisnya (yang berlumuran) darah palsu. Yakub berkata, "sebenarnya, hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu;maka hanya bersabar itulah yang terbaik (bagiku). Kepada Allah saja memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan."(Q.s.Yusuf[12]:18).
Janji ketiga, Allah Swt. mengajarkan dan menunjukan sesuatu. Dalam hal ini Dia berfirman:
"Jadikanlah sabar dan Shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk. (yaitu) orang - orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan Bahwa mereka akan kembali kepada-Nya."(Q.s.Al-Baqarah[2]:45-46).

SUMBER: DOA PARA NABI DAN KISAH YANG MENYERTAINYA, SYAIKH USAMAH AL-AUDHI



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar