Selasa, 12 Februari 2013

Perbanyaklah Mengingat Mati

Saudaraku, sebagai orang yang sedang menuju dan mengenal Allah, mengingat mati merupakan syarat mutlak bagi kita sebelum sakratul maut menjemput. Dalam kesibukan sehari - hari, kita sering melalaikan maut, padahal maut adalah langkah awal perjumpaan dengan - Nya. 'Aidh bin 'Abdullah al - Qarni dalam kitabnya yang berjudul Drama Kematian (Wa Ja'at Sakratul al - Maut bi al-Haqq) mengatakan ada tiga hal yang harus diperhatikan untuk mengingat kematian.
Pertama, menancapkan ingatan akan maut dalam benak. Dikisahkan bahwa maymum bin Mahran menggali kuburan dalam rumahnya. Setiap malam ia masuk ke dalam kuburan itu dan membaca Al-Qur'an di situ. setelah keluar ia berkata kepada dirinya sendiri, "Hai Maymum, engkau telah kembali ke dunia, maka perbuatlah amal saleh."

Cara lain adalah dengan melakukan ziarah kubur. Dulu memang Rasulullah saw pernah melarang umatnya melakukan ziarah kubur, tapi kemudian larangan itu dicabut. Nabi saw bersabda,
"Dahulu aku melarang kalian ziarah ke kuburan. Sekarang, silahkan kalian melakukannya! Sebab, hal itu dapat mengingatkan kalian pada kematian." (al-Hadits).

Cara ini acap dilakukan oleh Sayidina 'Utsman bin Affan ra. Hani', salah seorang hamba sahaya beliau bercerita, bahwa 'Utsman sering berdiri seorang diri di atas kuburan sambil menangis, sehingga air matanya membasahi jenggotnya. Lalu seseorang bertanya kepadanya, "Ketika ingat surga dan neraka engkau tidak menangis, tetapi ketika ingat kuburan engkau menangis. "'Utsman ra berkata, "Sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda,
"Kuburan merupakan salah satu tempat tinggal Akhirat yang pertama. Jika selamat darinya, maka setelahnya akan lebih mudah darinya. Tetapi jika tidak selamat darinya, maka setelahnya akan lebih parah dan pedih darinya."

Bagi para pejalan ruhani, makam - makam merupakan tempat yang indah dan mempesona, sehingga mereka sering mengunjunginya setiap ada kesempatan. Seorang sufi yang rajin melakukan ziarah kubur adalah Syaikh Muhammad bin 'Anan. beliau berziarah ke makam - makam setiap Jumat, baik yang dia kenal maupun tidak. Ketika melihat suatu makam, dia selalu menangis dan meratapi diri karena teringat berbagai dosa dan kesalahan yang telah dilakukannya.

Salah satu doanya yang terkenal tatkala berziarah ke kuburan kaum mukmin adalah, "Ya Allah, mungkinkah engkau menjamin diriku selamat dari siksa kubur, sementara diriku terus menerus lalai atas perintah - Mu? Kuburan ini hanya tumpukan tanah. Namun, apa yang ada di dalamnya aku tidak tahu. Aku tidak tahu apakah keimananku akan terus terjaga sampai aku masuk ke liang lahat. Aku tidak yakin apakah ilmu yang sedikit ada padaku dapat menyelamatkanku atau malah melaknatku. Aku tidak yakin apakah orang - orang akan mendoakan kebaikan untukku setelah aku mati. Atau, mereka malah mendoakan keburukan bagiku karena kezhalimanku terlalu banyak kepada mereka."

"Aku takut akan kemiskinan. Namun, aku lebih takut pada kegelapan di alam kubur. Aku takut dikucilkan oleh orang - orang. Namun, aku lebih takut terkucil sendirian dalam alam kubur yang mencekam. Aku takut dicemooh oleh orang - orang di dunia. Namun, aku lebih takut para malaikat mencemooh diriku di dalam kubur. Aku takut dikatakan sebagai orang yang lemah dan tidak memiliki harta. Namun, aku lebih takut dibentak oleh malaikat zabbaniyyah di akhirat kelak."

Ada juga cara lain yang lebih praktis, yaitu mengingat teman ataupun saudara kita yang telah wafat dan membayangkan keadaannya di tempat peristirahatannya di liang lahat. bayangkan akan kegagahan dan jabatannya saat hidup, lalu bayangkan jika di dalam kubur semua itu akan hilang, hanya berteman belatung, cacing, kalajengking dan kegelapan saja...lalu dimana jabatan tadi yang di bangga-banggakan....










 Tiap-tiap yang bernyawa akan merasai mati, dan bahawasanya pada hari kiamat sahajalah akan disempurnakan balasan kamu. Ketika itu sesiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke syurga maka sesungguhnya ia telah berjaya. Dan (ingatlah bahawa) kehidupan di dunia ini (meliputi segala kemewahannya dan pangkat kebesarannya) tidak lain hanyalah kesenangan bagi orang-orang yang terpedaya.(Ali 'Imran:185).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar